Jambi- Senin, 15 Desember 2025, Museum Negeri Siginjei Provinsi Jambi menyelenggarakan Seminar Kajian Koleksi Pakaian Adat Jambi sebagai upaya memperkuat pemahaman dan pelestarian warisan budaya daerah. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Museum Siginjei dan diikuti oleh akademisi, pemerhati budaya, mahasiswa, guru, serta masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan Jambi.
Seminar ini mengangkat tema kajian mendalam terhadap koleksi pakaian adat Jambi yang tersimpan di Museum Siginjei, baik dari aspek sejarah, filosofi, fungsi sosial, maupun nilai simbolik yang terkandung di dalamnya. Pakaian adat tidak hanya dipandang sebagai busana tradisional, tetapi juga sebagai identitas budaya yang merepresentasikan sistem nilai, status sosial, dan kearifan lokal masyarakat Jambi.
Menurut Mina Zahara selaku ketua prodi SPI, seminar ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga menjadi media edukasi publik dalam memahami makna filosofis, historis, dan sosial yang terkandung dalam setiap koleksi pakaian adat Jambi. Keterlibatan berbagai unsur, baik akademisi, praktisi budaya, maupun pengelola museum, menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya daerah.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi melalui UPTD Museum Siginjei yang telah menghadirkan seminar ini. Kegiatan seperti ini sangat relevan dengan pengembangan keilmuan sosial dan budaya, serta menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi civitas akademika,” ujarnya.
Dalam sambutannya, pihak Museum Siginjei menegaskan bahwa koleksi pakaian adat merupakan salah satu koleksi unggulan yang memiliki nilai edukatif tinggi. Melalui seminar ini, museum berupaya menjadikan koleksi tidak hanya sebagai benda pajang, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang hidup dan relevan bagi generasi masa kini.

Kegiatan ini menghadirkan beberapa narasumber yakni Abdurrahman (Dosen Universitas Jambi), Datuk Zainal dan Ibu Fathonah. Para narasumber yang hadir memaparkan berbagai hasil kajian, mulai dari perkembangan historis pakaian adat Jambi, ragam jenis busana berdasarkan wilayah dan adat istiadat, hingga tantangan pelestarian di tengah arus modernisasi. Diskusi juga menyoroti pentingnya dokumentasi, penelitian berkelanjutan, serta digitalisasi koleksi sebagai strategi memperluas akses publik terhadap warisan budaya.
Antusiasme peserta terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Peserta aktif menggali informasi terkait makna ornamen, warna, dan aksesoris pakaian adat, serta peran museum dalam mendukung pendidikan budaya lokal. Melalui seminar kajian ini, Museum Siginjei berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian pakaian adat Jambi sebagai identitas budaya daerah. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi, riset, dan pelestarian kebudayaan Jambi yang berkelanjutan.